Mengapa gagal ginjal harus cuci darah

Sejumlah pasien melakukan cuci darah di Klinik Hemodialisis Tidore, Jakarta, Senin (13/1). Ilustrasi.

Foto: Republika/Prayogi

Pasien gagal ginjal yang lakukan terapi hemodialisis atau cuci darah capai 99 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Hemodialisis atau dalam bahasa awam disebut cuci darah menjadi terapi pengobatan yang paling banyak dijalani pada pasien gagal ginjal di Indonesia. Hal ini diungkapkan Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Aida Lydia.

Ia merujuk pada data Indonesian Renal Registry pada 2019 yang dihimpun Pernefri yang menunjukkan pasien gagal ginjal yang melakukan terapi hemodialisis mencapai 99 persen. Sementara pasien yang melakukan terapi dialisis peritoneal (CAPD) sebanyak satu persen.

"Hemodialisis adalah modalitas yang paling banyak digunakan mencapai 99 persen. CAPD juga meningkat tetapi meningkatnya tidak setajam hemodialisis. Hemodialisis ini meningkat setelah memang BPJS Kesehatan diberlakukan di Indonesia," kata dia dalam diskusi yang diadakan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) di Jakarta, Rabu (28/9/2022).

Ia mengatakan salah satu faktor hemodialisis cukup tinggi karena kebanyakan pasien datang sudah dalam kondisi terlambat, seperti yang terjadi di RSCM sebagai RS rujukan terbesar yang mencatat lebih dari 90 persen pasien datang terlambat ke IGD. "Pada saat datang sudah membutuhkan dialisis karena datang dalam keadaan emergensi. Pada saat itu, kami tidak cukup waktu untuk memberikan edukasi, dan pada akhirnya dilakukanlah hemodialisis. Ini adalah salah satu faktor kenapa hemodialisis cukup tinggi," katanya.

Aida menyebutkan pasien-pasien yang menjalani hemodialisis dari tahun ke tahun angkanya meningkat dengan tajam. Jumlah pasien yang menderita gagal ginjal juga meningkat sehingga kebutuhan untuk terapi pengganti ginjal juga meningkat.

Proses hemodilasis bekerja dengan bantuan mesin khusus untuk menggantikan ginjal yang rusak agar tubuh bisa menyaring darah. Agar dialisis berjalan dengan baik, diperlukan akses pembuluh darah atau akses vaskular.

Aida mengatakan akses vaskular idealnya harus disiapkan jauh hari sebelum pasien benar-benar memerlukan hemodialisis. "Kenapa? Karena begitu dokter bedah melakukan operasi yang di mana dilakukan AV shunt antara pembuluh darah nadi dan pembuluh darah balik, untuk betul-betul bisa digunakan, itu perlu waktu. Waktunya berapa lama, tergantung pembuluh darah pasien, kadang bisa dua bulan atau tiga bulan," terangnya.

Walau hemodialisis banyak dipilih sebagai terapi pengobatan pada pasien gagal ginjal, di sisi lain terdapat masalah kurangnya pemerataan layanan tersebut. Ia mengatakan unit-unit hemodialisis yang terbanyak berada di Pulau Jawa dan Bali, sementara pulau lainnya masih sedikit.

"Di Sumatra hanya paling banyak di Sumatra Utara, lumayan juga di Sumatra Barat dan Sumatra Selatan tapi juga masih terhitung sedikit. Masih sangat sedikit sekali di Kalimantan dan Papua. Bahkan ada juga kabupaten yang sama sekali tidak mempunyai hemodialisis," katanya.

Halodoc, Jakarta – Cuci darah alias dialisis adalah prosedur yang dilakukan pada pengidap penyakit ginjal. Prosedur ini dilakukan untuk “menggantikan” fungsi ginjal yang menurun karena serangan penyakit. Cuci darah berfungsi untuk membuang limbah berbahaya di dalam tubuh.

Dalam kondisi normal, membuang limbah berbahaya dalam tubuh sebenarnya adalah fungsi alami organ ginjal. Organ ini akan menyaring darah dan memisahkan zat berbahaya serta cairan berlebih untuk kemudian dikeluarkan dari urine.

Saat ginjal mengalami masalah atau terserang penyakit, fungsinya bisa terganggu. Karena itu, dibutuhkan cara lain untuk menyelesaikan tugas tersebut, yaitu melalui prosedur cuci darah. Lantas, mungkinkah orang yang mengidap penyakit ginjal tidak menjalani cuci darah?

Hal itu kembali pada jenis penyakit ginjal yang menyerang. Biasanya, prosedur cuci darah dilakukan pada orang yang mengidap penyakit ginjal kronis. Penyakit ini menyebabkan ginjal mengalami penurunan fungsi di bawah batas normal.

Gagal ginjal kronis menyebabkan tubuh pengidapnya tidak mampu menyaring kotoran, tidak mampu mengontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah. Hal itu kemudian menyebabkan zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna tetap tinggal dan membahayakan tubuh.

Baca juga: Tanpa Cuci Darah, Apakah Gagal Ginjal Kronis Bisa Diobati?

Pengidap penyakit ginjal kronis biasanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjalani prosedur ini dibanding pengidap sakit ginjal akut atau gangguan ginjal lain. Pasalnya, cuci darah menjadi satu-satunya cara untuk menjaga tugas ginjal di dalam tubuh tetap berjalan seperti seharusnya, setidaknya menyerupai.

Berapa Lama Cuci Darah Harus Dijalani?

Seperti dijelaskan di atas, lamanya cuci darah tergantung pada kondisi sakit yang dialami. Ada pengidap gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah hanya sementara, namun ada pula yang harus berlangsung dalam jangka panjang, bahkan selamanya. Sakit ginjal yang belum memasuki masa akut biasanya tidak membutuhkan cuci darah dalam waktu lama.

Pengidap penyakit ginjal akut biasanya tidak lagi membutuhkan cuci darah setelah organ tersebut sembuh dan sudah bisa melakukan fungsi seharusnya. Saat gejala penyakit ginjal hilang, saat itu pula prosedur ini bisa dihentikan. Sayangnya, itu tidak berlaku pada orang yang mengidap penyakit ginjal kronis.

Orang dengan gagal ginjal kronis stadium akhir biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk cuci darah, yaitu sampai mendapatkan transplantasi ginjal. Dengan kata lain, sampai transplantasi ginjal terjadi, prosedur cuci darah tetap harus dilakukan.

Baca juga: 5 Tanda Awal Gagal Ginjal yang Perlu Diketahui

Kabar buruknya, menunggu datangnya transplantasi ginjal tidak selalu mudah. Entah karena tidak cocok atau tubuh tidak siap untuk menerima transplantasi. Jika itu yang terjadi, ada kemungkinan cuci darah alias dialisis harus dilakukan seumur hidup tanpa bisa dihentikan sama sekali.

Keputusan untuk menghentikan prosedur cuci darah harus diambil melalui diskusi dengan dokter yang merawat. Pada orang yang mengidap gagal ginjal akut, pemulihan bisa saja terjadi dan cuci darah bisa dihentikan. Tapi, menghentikan cuci darah pada pengidap penyakit ginjal kronis malah bisa meningkatkan keparahan penyakit yang berujung pada kondisi yang mematikan.

Baca juga: Gagal Ginjal Kronis Perlu Cuci Darah

Masih penasaran seputar cuci darah dan penyakit gagal ginjal? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat untuk menanyakan seputar gangguan kesehatan atau menyampaikan keluhan tentang penyakit. Dapatkan informasi kesehatan terlengkap dan tips hidup sehat dari dokter tepercaya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Apa yang terjadi jika pasien gagal ginjal tidak cuci darah?

Pasien gagal ginjal yang tidak melakukan cuci darah akan mengalami gangguan keseimbangan elektrolit yang berakibat kepada gangguan pernapasan dan gangguan kardiovaskular. Peningkatan Racun. Peningkatan racun karena racun di dalam tubuh tidak terbuang.

Apa yang menyebabkan seseorang harus cuci darah?

Cuci darah atau hemodialisis akan diperlukan ketika ginjal tidak lagi berfungsi dengan baik akibat penyakit gagal ginjal atau trauma. Ginjal merupakan sepasang organ yang terletak pada bagian belakang pinggang.

Berapa lama penderita gagal ginjal bisa bertahan hidup tanpa cuci darah?

Pasien yang memilih untuk tidak menjalani dialisis ternyata bisa bertahan hidup hingga empat tahun setelah tidak menjalani pengobatan.

Gagal ginjal sudah cuci darah apakah bisa sembuh?

Pada gagal ginjal yang sudah memerlukan tindakan cuci darah, umumnya sudah pada stadium 5 atau stadium akhir, dimana kerusakan ginjal tersebut tidak dapat kembali sembuh seperti semula dan hanya dapat diatasi dengan cuci darah atau transplantasi ginjal.